Maa .. Paa aku seorang Introvert.

rian bangun cepatt !!!!! kau tak malu ini sudah jam berapa !!! lihat temanmu yang lain diluaran sana mereka begitu aktif !!!

Pagi itu untuk kesekian kalinya aku selalu mendengar teriakan itu. teriakan yang baru aku dengar satu tahun belakangan ini setelah 18 tahun aku hidup di dunia. Sebelumnya mama tidak pernah berteriak bahkan berbicara dengan nada keras pun tidak pernah. Aku anak laki - laki pertama di keluarga kecil ini, selama 17 tahun aku hidup sebagai anak tunggal yang sangat dimanja dan tidak pernah merasa kekurangan. Aku juga introvert dan sangat tidak suka dengan keramaian. Bapa selalu pesan agar aku dirumah saja jika sepulang sekolah.

Hidupku normal dan aku merasa bahagia meskipun orang tua ku tidak pernah ada dirumah, ya.. mereka sibuk bekerja jadi kami hanya bertemu ketika pagi hari mungkin sesekali di malam hari jika mereka pulang awal karena sering sih ketika mereka pulang aku sudah tidur.

Sepulang sekolah aku hanya didalam rumah sambil bermain dengan playstation kesayanganku dan karena pesan orang tua ku juga yang membuat aku menjadi introvert dan tidak pernah bersosialisasi dengan banyak orang bahkan tetangga dan teman kelas ku pun rasanya seperti orang asing meskipun setiap hari bertemu tak membuat ku bisa berbaur, entahlah aku pun tidak mengerti seperti ada rasa tidak nyaman ketika aku berbicara dengan mereka.

Aku tumbuh menjadi anak pemalas dan tidak punya aturan, karena sudah terbiasa hidup sendiri dan semua serba tersedia membuat aku tidak punya keinginan dan cita - cita, bukan karena ekonomi keluarga ku yang tidak mampu tapi aku merasa untuk apa aku bermimpi toh orang tua ku selalu memberikan apa yang aku inginkan dan mereka juga tidak meminta apapun dariku kecuali rajin sekolah dan jangan nakal.

Tapi semua berubah ketika aku menginjak SMA, ketika mama hamil dan melahirkan anak laki - laki. Mama memutuskan untuk berhenti bekerja dan ingin fokus di rumah karena sekarang sudah ada adik kecil. Aku tidak terlalu bahagia bahkan cenderung acuh, ya... karena menurutku itu bukan urusanku ada mama jadi ngapain aku ikut campur.

Mama sangat menyayangi dan perhatian terhadap adikku Angga, bahkan melebihiku mungkin karena sepertinya aku tidak pernah mendapat perhatian seperti itu. Namun aku berusaha untuk tidak iri dan cemburu kepada adikku karena aku tahu mungkin mama tidak ingin kejadian masa lalu terulang kembali..... memang sebelumnya aku punya adik tapi dia tidak bertahan lama karena setelah lahir kondisinya sangat lemah bahkan lahir secara prematur.

Semenjak mama memutuskan untuk fokus di rumah, keadaan rumah menjadi tidak nyaman untukku, aku merasa keberadaan mama sangat asing dan terlihat seperti monster. Padahal mama yang aku kenal sangat lembut dan tidak pernah sekalipun berbicara dengan nada tinggi. Suatu ketika aku pulang sekolah dan langsung masuk ke kamar tanpa melepas seragamku. Tiba - tiba kudengar suara mama begitu besar sampai aku yang sedang tidur siang terbangun. Mama berdiri di pintu kamarku sambil memarahiku yang tidak melepaskan seragam terlebih dahulu.

Aku bingung sepertinya tidak ada yang salah, aku juga tidak berbuat nakal bahkan setiap hari aku memang seperti ini, mungkin mama baru tahu karena sebelumnya mama memang tidak pernah ada di rumah dan selalu sibuk bekerja jadi mama tidak pernah lihat dan tahu kegiatan anaknya di siang hari. Semenjak saat itu mama jadi sering marah - marah dengan segala kebiasaanku.

Tidak cukup mama yang berubah, bapa juga sama menjadi sering marah - marah padaku. Bapa juga saat ini lebih sering di rumah karena pekerjaannya tidak sepadat dulu. Bapa sering memarahi ku jika aku selalu berdiam di rumah setelah pulang sekolah. Pernah sesekali bapa menyuruhku untuk bermain bola dengan anak - anak tetangga yang usianya sama sepertiku, awalnya aku menolak karena memang aku tidak bisa bermain bola dan tidak kenal juga dengan mereka, akhirnya aku coba untuk memberanikan diri gabung dengan mereka setelah bapa sendiri yang memanggil mereka untuk kerumah. Mungkin itu tindakan bodoh yang aku lakukan, di tengah permainan kepalaku terkena bola dan badanku juga sangat kotor karena memang kami mainnya di lapangan dekat sawah yang sedikit becek, aku memutuskan untuk pulang walaupun permainannya belum selesai, sambil lari tergopoh - gopoh aku mengusap air mataku yang sudah membanjiri pipi.

"Kenapa kamu rian ? kenapa badanmu kotor terus kenapa kamu nangis?'' dengan nada papa yang meninggi, "aku terkena bola pa sama mereka dan tadi kami bermain di lapangan dekat sawah yang sangat becek" suaraku pilu menahan sakit dikepala dan perasaan tidak nyaman yang kurasakan. Aku kira bapa akan menenangkanku namun yang kudapat sebaliknya bapa memarahiku dan menyinggungku bahwa aku laki-laki lemah. Untuk pertama kalinya aku melihat bapa semarah itu dan sangat menakutkan.

Sejak saat itu hari-hari ku menjadi tak menyenangkan bahkan jika boleh meminta lebih baik orang tuaku sibuk saja diluar. Batinku begitu tersiksa bahkan aku bingung ketika pulang sekolah karena jika aku pulang cepat akan dimarahi oleh mama dan bilang aku harus aktif di sekola seperti Andi tetanggaku, sangat menyebalkan.

Setelah tiga tahun akhirnya aku lulus dari seragam Putih Abu dan aku tidak tahu akan apa selanjutnya karena memang aku tidak punya keinginan atau mimpi. Kuhabiskan waktuku di rumah , aku merasa ini waktunya bisa istirahat dan bangun siang karena selama aku bersekolah dulu sangat sulit untuk bangun siang terlebih mama selalu membangunkanku dengan alasan sekolah.

Namun ternyata aku salah setelah aku lulus ternyata mama semakin sering mamarahiku. Aku seketika sangat membenci orangtua ku karena menurutku mereka selama ini tidak memperdulikan dan perhatian pada ku lalu mengapa sekarang mereka banyak menuntut. Apa dulu ketika mereka sibuk bekerja aku pernah menuntut untuk mereka selalu disampingku ? rasanya tidak adil dan tak jarang aku bertengkar dan membentak orangtua ku, ya .. aku yang saat ini menjadi sangat emosional dan sensitif apalagi jika mereka sudah memaksaku untuk berbaur dengan orang-orang diluar sana. Sejujurnya aku tidak ingin seperti ini, aku sangat menyayangi orangtua ku namun entah aku sendiri tidak bisa mengendalikan emosi dan fikiranku.

Akupun mulai membenci Tuhan atas situasi saat ini, tidak ada satu orangpun yang mengertiku dan memahamiku bahwa aku ini seorang Introvert dan aku tidak nyaman dengan keramaian, ini semua terjadi karena mama dan papa yang tidak pernah memperhatikanku dan kebiasaanku yang selalu berada didalam rumah. Ingin sekali ku katakan bahwa aku Introvert bukan pemalas atau apapun yang seperti kalian fikirkan.


maa ... paa ... tolong mengertilah dan bimbing aku dengan kelembutan. Maafkan aku sejujurnya aku sangat menyayangi kalian.

-Rian-


                                                                                                             

Komentar